Mujhid Muzhid

Lebih besarnya cita-citanya manusia adalah orang iman yang bercita-cita (sukses) perkara dunianya dan (sukses) perkara akhirotnya. - HR. Ibnu Majah -
Namun untuk meraih dua kesuksesan tersebut, tidaklah cukup dengan bersantai, menganggurkan diri dan bergantung pada orang lain, tetapi harus dengan kerja giat dan semangat. Di dalam urusan akhirot, kita harus giat dan semangat dalam beribadah, menjalankan perintah perintah serta menjauhi larangan-larangan Alloh dan Rosul. Adapun dalam urusan dunia, kita harus bisa giat dan semangat dalam menekuni pekerjaan, tetap hidup sederhana, tidak boros, tidak memubazirkan harta, serta bisa mengukur kemauan dengan kemampuan. Dengan kata lain kita harus bisa MUJHID - MUZHID.



Dalam sebuah Hadist riwayat Ahmad, Rosululloh SAW pernah bersabda, yang artinya:
"Sungguh beruntung orang yang bisa tirakat (hidup hemat) dan mempersungguh (bekerja giat)"
Mujhid dapat diartikan kerja keras dan giat yang berhasil dan kurup. Sebuah usaha maksimal agar dapat bersaing dalam iklim kompetisi yang semakin ketat. Agar dapat survive dalam iklim kompetisi semacam itu, persyaratan dasarnya adalah kemauan untuk bekerja keras yang dapat menghasilkan sesuatu bagi upaya menyelesaikan persoalan atau kebutuhan hidup seseorang.

Hidup ini seperti kegiatan mendaki gunung. Keberhasilan diperoleh dengan cara mendaki terus menerus untuk mencapai puncak gunung. Selama pendakian, terkadang kita bisa cepat, lambat bahkan suatu saat terhenti. Karenanya, dalam pendakian ada yang berhasil sampai puncak, ada yang setengah bahkan ada yang gagal.
Setiap kesulitan adalah tantangan, setiap tantangan adalah peluang, dan setiap peluang harus dijalani dan dihadapi.

Muzhid bisa diartikan sebagai hemat, hidup sederhana, tidak berfoya-foya, tidak boros, bisa mengukur kemauan dengan kemampuan, tidak memubazirkan harta.
"Dan makanlah serta minumlah, dan jangan pula kamu melampaui batas, sesungguhnya Alloh tidak suka kepada orang-orang yang melampaui batas (isrof)" - QS. Al-A'rof: 31 -
Kita harus bisa trampil mengelola pengeluaran. Untuk dapat mengendalikan pengeluaran dengan baik, ada baiknya kita memahami perbedaan antara aset dan beban. Dengan memahaminya, Insya Alloh akan terbentuk mentalitas yang senantiasa berusaha merubah uang menjadi aset. Hal pertama yang harus dilakukan adalah membiasakan pengeluaran harus selalu lebih kecil dari pendapatan. Kemudian dari sisa yang ada (surplus) dikumpulkan untuk selanjutnya dijadikan aset. Sehingga pada akhirnya dapat dicapai kondisi --> uang menghasilkan uang.

Mungkin kisah seoarang wanita china berikut bisa menjadi inspirasi.....

Yu Youzhen


Yu Youzhen (53) bukanlah perempuan biasa. Warga kota Wuhan, China ini memiliki kekayaan yang luar biasa. Menurut harian South China Morning Post, Yu adalah pemilik 17 gedung apartemen di Wuhan dengan nilai aset sebesar 1,6 juta dollar AS atau lebih dari Rp 15 miliar.

Namun tidak seperti orang kaya lainnya yang memilih bersantai menghitung kekayaan atau berlibur ke luar negeri, Yu tetap memilih bekerja di usianya yang sudah senja tersebut. Dan, pekerjaan yang dipilih Yu adalah petugas kebersihan kota, sejak 1998. Yu harus bangun sejak pukul 3.00 dini hari, lalu bekerja selama enam jam penuh membersihkan ruas jalan sepanjang 3 km dari sampah dan kotoran lainnya. Tak hanya itu, Yu harus bekerja selama enam hari dalam sepekan.

Sejatinya, Yu dan suaminya memang terlahir dari keluarga miskin dan terbiasa bekerja keras. Sejak 1980-an, Yu dan suaminya bekerja dari pagi hingga malam demi bisa menyisihkan sedikit uang. Jerih payah mereka terbayar, ketika mereka akhirnya bisa membangun rumah tiga lantai. Nah, beberapa ruangan di rumah tiga lantai inilah yang kemudian disewakan Yu kepada penduduk desa yang merantau ke Wuhan, dengan harga sewa 50 yuan atau sekitar Rp 75 ribu perbulan. Hasil dari menyewakan beberapa ruangan tersebut, Yu bisa menyisihkan uang untuk membangun lebih banyak apartemen. Hanya dalam beberapa tahun, Yu telah memiliki lima gedung apartemen.

Kembali ke masa kini, banyak orang tak memahami mengapa Yu, yang sudah berkelimpahan uang, tetap bekerja sebagai pembersih jalanan. Apa sebenarnya motivasi Yu mempertahankan pekerjaannya?

"Saya ingin menjadi contoh bagi putra putri saya.Seseorang tak bisa hanya duduk di rumah dan memakan seluruh kekayaannya", kata Yu menjelaskan motivasinya.

Bahkan Yu tak segan-segan memperingatkan anak-anaknya agar tak bermalas-malasan.

"Jika mereka tidak mau bekerja, maka akan saya serahkan seluruh kekayaan saya kepada negara", ujar Yu.

Dan ancaman sang ibu ternyata cukup manjur. Putranya kini bekerja "hanya" sebagai sopir di kawasan Donghu dan putrinya sebagai karyawati di perusahaan swasta


Jazakumullohukhoiro

Sumber tulisan: CAI 2001, 2002 dan Kompas Online

Post a Comment