Senyuman
Sarana paling besar yang dilakukan Muhammad SAW dalam dakwah dan
perilaku beliau adalah sebuah gerakan yang sederhana, tidak membutuhkan biaya
besar, tidak membutuhkan energi berlimpah, meluncur dari dua bibir yang
merekah, untuk selanjutnya menghunjam masuk ke relung kalbu yang sangat dalam.
Jangan ditanyakan efektifitasnya. Akal dan pikiran padang, kesedihan hilang,
jiwa jadi bersih, menghancurkan tembok penghalang di antara anak manusia!
Itulah ketulusan yang mengalir dari dua bibir yang bersih: senyuman!
Senyuman itulah yang senantiasa keluar dari bibir Muhammad SAW
dalam setiap perilakunya. Beliau tersenyum ketika bertemu dengan sahabatnya.
Saat beliau menahan amarah atau ketika beliau berada di majelis peradilan
sekalipun.
Diriwayatkan dari Jabir dalam sahih Bukhari dan Muslim, berkata:
“Sejak aku masuk Islam, Rasulullah SAW tidak pernah menghindar dariku. Dan beliau tidak melihatku kecuali beliau pasti tersenyum kepadaku.”
Suatu ketika Muhammad SAW didatangi seorang Arab Badui, dengan
serta merta ia berlaku kasar dengan menarik selendang Muhammad SAW sehingga
leher beliau membekas merah. Orang Badui itu bersuara keras, “Wahai Muhammad,
perintahkan sahabatmu memberikan harta dari Baitul Maal! Muhammad SAW menoleh
kepadanya seraya tersenyum. Kemudian beliau menyuruh sahabatnya memberi harta
dari baitul maal kepadanya.”
Ketika beliau memberi hukuman keras terhadap orang-orang yang
terlambat dan tidak ikut serta dalam perang Tabuk, beliau masih tersenyum
mendengarkan alasan mereka. Ka’ab ra. berkata setelah mengungkapkan alasan
orang-orang munafik dan sumpah palsu mereka: “Saya mendatangi Muhammad SAW, ketika saya
mengucapkan salam kepadanya, beliau tersenyum, senyuman orang yang marah.
Kemudian beliau berkata, “Kemari. Maka saya mendekati beliau dan duduk di depan
beliau.”
Suatu ketika Muhammad SAW melintasi masjid yang di dalamnya ada
beberapa sahabat yang sedang membicarakan masalah-masalah jahiliyah terdahulu,
beliau lewat dan tersenyum kepada mereka. Beliau tersenyum dari bibir yang
lembut, mulia nan suci, sampai akhir detik-detik hayat beliau. Anas bin Malik
berkata diriwayatkan dalam sahih Bukhari dan Muslim, “Ketika kaum muslimin
berada dalam shalat fajar, di hari Senin, sedangkan Abu Bakar menjadi imam
mereka, ketika itu mereka dikejutkan oleh Muhammad saw. yang membuka hijab
kamar Aisyah. Beliau melihat kaum muslimin sedang dalam shaf shalat, kemudian
beliau tersenyum kepada mereka!” Sehingga tidak mengherankan beliau mampu
meluluhkan kalbu sahabat-shabatnya, istri-istrinya dan setiap orang yang
berjumpa dengannya!
Nabi Muhammad SAW telah meluluhkan hati siapa saja dengan
senyuman. Beliau mampu “menyihir” hati dengan senyuman. Beliau menumbuhkan
harapan dengan senyuman. Beliau mampu menghilangkan sikap keras hati dengan
senyuman. Dan beliau mensunnahkan dan memerintahkan umatnya agar menghiasi diri
dengan akhlak mulia ini. Bahkan beliau menjadikan senyuman sebagai lahan berlomba
dalam kebaikan. Rasulullah SAW bersabda,
“Senyummu di depan saudaramu adalah sedekah.” (Rowahu At Tirmidzi dalam sahihnya).
Meskipun sudah sangat jelas dan gamblang petunjuk Nabi dan praktek
beliau langsung ini, namun masih banyak terlihat sebagaian manusia masih
berlaku keras terhadap anggota keluarganya, tehadap rumah tangganya dengan
tidak menebar senyuman dari bibirnya dan dari ketulusan hatinya. Sebagian
manusia -karena bersikap cemberut dan muka masam- mengira bahwa giginya bagian
dari aurat yang harus ditutupi!
Para pakar dari kalangan muslim maupun non muslim melihat seuntai
senyuman sangat besar pengaruhnya. Dale Carnegie dalam bukunya menceritakan:
"Wajah merupakan cermin yang tepat bagi perasaan hati seseorang. Wajah yang ceria, penuh senyuman alami, senyum tulus adalah sebaik-baik sarana memperoleh teman dan kerja sama dengan pihak lain. Senyum lebih berharga dibanding sebuah pemberian yang dihadiahkan seorang pria. Dan lebih menarik dari lipstik dan bedak yang menempel di wajah seorang wanita. Senyum bukti cinta tulus dan persahabatan yang murni.”
Carnegie menambahkan,
“Ingatlah, bahwa senyum tidak membutuhkan biaya sedikitpun, bahkan membawa dampak yang luar biasa. Tidak akan menjadi miskin orang yang memberinya, justru akan menambah kaya bagi orang yang mendapatkannya. Senyum juga tidak memerlukan waktu yang bertele-tele, namun membekas kekal dalam ingatan sampai akhir hayat. Tidak ada seorang fakir yang tidak memilikinya, dan tidak ada seorang kaya pun yang tidak membutuhkannya.”
Pengalaman membuktikan bahwa dampak positif dan efektif dari
senyuman, yaitu senyuman menjadi pendahuluan ketika hendak meluruskan orang
yang keliru, dan menjadi muqaddimah ketika mengingkari yang munkar. Orang yang
selalu cemberut tidak menyengsarakan kecuali dirinya sendiri. Bermuka masam
berarti mengharamkan menikmati dunia ini. Dan bagi siapa saja yang mau menebar
senyum, selamanya ia akan senang dan gembira. Ya, senyum yang tulus dan penuh
penghambaan.
Sudahkan anda tersenyum hari ini..?
Sumber; Milis Jokam by Faizunal Abdillah






Post a Comment